Tampilkan postingan dengan label INSPIRATIE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSPIRATIE. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 April 2014

Perjalanan Menuju Netherland Fellowship Programme Scholar

nfp
Pada kesempatan ini saya bermaksud sedikit berbagi tentang beasiswa yang telah saya dapatkan, namanya Netherland Fellowship Programme atau lebih dikenal dengan NFP. Beasiswa NFP adalah beasiswa yang dikelola langsung oleh pemerintah Kerajaan Belanda untuk pelajar yang diseleksi langsung di 60 negara di dunia, termasuk salah satunya Indonesia.
Bisa jadi sahabat semua lebih mengenal dengan beasiswa Stunned untuk ke Belanda. Bedanya apa? Sederhananya, beasiswa Stunned adalah beasiswa yang dikelola oleh Kedutaan Belanda di Indonesia yang memang di dedikasikan khusus untuk calon pelajar di Indonesia, sedangkan NFP itu seleksinya langsung bersama 60 negara lain. Jadi ya lebih kompetitif gitu. Selain itu Stunned lebih banyak di dedikasikan untuk mereka yang sudah jadi PNS atau program Double Degree kerjasama kampus seperti UGM, UI, dan ITB.
Sedangkan di NFP kamu bisa bersaing dengan peserta dari 60 negara dengan berbagai latar belakang. Sebagai catatan, perempuan mendapatkan prioritas lebih untuk mendapatkan beasiswa ini.
Saya akan coba berbagi langkah-langkah yang saya tempuh dalam proses mendapatkan beasiswa ini, bisa dikatakan saya membutuhkan waktu lebih kurang satu tahun lamanya untuk mendapatkan beasiswa NFP 2012-2013.
Langkah Pertama : Tentukan dan Daftar di Kampus yang kamu tuju

Get Your Fulbright

fullb
Beasiswa itu mudah. Wah, kelihatannya enteng sekali mengatakannya. Namun, ini justru menjadi keyakinan Ratnasari Dewi setelah perjalanan panjang meraih beasiswa.
Kuncinya, meski sudah berkali-kali menerima penolakan dari berbagai penyelenggara beasiswa, Dewi tak kunjung menyerah. Lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini justru makin giat mengejar impiannya untuk sekolah ke luar negeri dengan beasiswa, seperti dituturkannya di Indonesia Mengglobal. Dia pun akhirnya berhasil melanjutkan studi ke Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.
Beasiswa itu mudah bagi Anda yang memang menaruh komitmen besar untuk melanjutkan studi dengan beasiswa di luar negeri dan di dalam negeri. Pasalnya, menurut Dewi, hanya mereka yang berkomitmen besar yang akan mencurahkan fokus dan energinya untuk menemukan jalan menuju cita-cita yang diimpikan.
Tulisan ini disusunnya pada tahun 2010. Namun, perjalanan panjangnya bisa menjadi wawasan baru bagi Anda yang bercita-cita melanjutkan studi di luar negeri dengan beasiswa. Jangan mudah menyerah!
"Beasiswa Itu Mudah"
"Ih Wi, hebat banget si loe bisa dapat beasiswa!!!"
Ucapan itu keluar dari setidaknya dari beberapa orang ketika mendengar saya mendapat beasiswa Fulbright untuk melanjutkan S2 ke Amerika. Beberapa orang mengucapkan selamat sambil terus bilang kata-kata di atas.
Buat saya, mendapat beasiswa adalah hal yang lumrah saja karena selama Indonesia masih menjadi negara berkembang (baca: negara dunia ketiga), negara-negara maju akan memberikan bantuan beasiswa ini. Jadi,

Sabtu, 12 April 2014

Kisah 'BU'

Kisah 'BU',
DARI RIDHO ORANG TUA HINGGA INSPIRASI UNTUK BANGSA
      Berbicara tentang memburu beasiswa, saya yakin semua pemburu punya cerita masing-masing. Dari cerita yang aneh-aneh, nekat, kejadian lucu-lucu, sampai yang bener-bener menyedihkan...ditolak, dibentak-bentak, sampai mungkin dicuekin. Hehe... Tapi dibalik kisah-kisah itu, pasti ada hal yang menginspirasi orang lain yang diceritakannya. Minimal orang lain itu akan penasaran, “apa iya sih mencari beasiswa itu “sebegitunya”?”. Kali ini saya akan menceritakan kisah dan perjuangan saya menerima Beasiswa Unggulan dari DIKTI. Semoga bisa meninspirasi teman-teman semua ^_^
     Well, kata-kata “beasiswa” mungkin sudah melekat di benak pikiran kita semenjak kita melangkahkan kaki di bangku sekolah. Ada teman yang dapet beasiswa inilah, beasiswa itulah, di sekolah ini, negara itu, besarnya segini, dapet ini itu, huaaah...dan banyak lagi. Sebenarnya apa sih yang memotivasi seseorang buat BUdapet beasiswa? Ya tentunya, sekolah gratis dan tidak lupa bahwa beasiswa juga berarti PRESTASI! Sebagian besar orang pasti berpikiran seperti itu, di samping tujuan-tujuan yang lain. Sebenarnya, singkat cerita semenjak duduk di bangku sekolah dari SD sampe S1, saya belum pernah mendapat beasiswa. Karena selama selang waktu sekolah itu, belum ada inspirasi yang masuk ke saya untuk “memburu” beasiswa. Namun, sejak saya memutuskan untuk lanjut kuliah lagi setelah lulus pendidikan tingkat sarjana (S1) saya menjadi berpikir. Hmm..kuliah S2? Apa yang pertama terlintas di benak teman-teman? I guess, kita semua pasti berpikir...”Mahal ya? Darimana biayanya?”. Berat rasanya membayangkan uang sebanyak itu untuk saya yang terlahir di keluarga yang menengah (bener-bener di tengah,hehe) yang mungkin bener kata orang “pas-pas’an”. Alhamdulillah pas buat makan, pas buat beli baju, pas buat beli bensin...hehehe. Maka dari itu, sejak saya udah mulai penelitian skripsi, saya sudah langganan milist (mailing list) ataupun fan page beasiswa di facebook maupun twitter. Saat itu, saya selalu terobsesi dengan yang namanya kuliah di luar negeri. Setiap email atau informasi yang masuk membuat saya tambah puyeng lagi, ada skor TOEFL-lah, sertifikat bahasa ini itu, research proposal, sampai ada yang mensyaratkan letter of recommendation dari profesor dari universitas tujuan. Rasanya kayak hampir menyerah. Tapi ga juga sih, lebaiiy..hehe.
      

ADS for MIRA

Mira Shartika: “Prestasi Biasa-Biasa saja Bisa juga Dapat Beasiswa”
ADS, Australia
Abstract Clock BackgroundNama saya Mira Shartika. Sebelum berangkat ke Australia untuk menempuh program Master di bidang TESOL, saya mengajar di SMAN 1 Lawang di Malang dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Sejak SD sampai Perguruan Tinggi, saya termasuk orang yang jarang meraih prestasi di bidang apa pun. Nilai akademik saya juga biasa-biasa saja, seringkali malah nanggung. Saya bukan orang istimewa dengan segudang prestasi dan pengalaman organisasi seperti para kandidat dan penerima beasiswa lainnya. Ketika ujian masuk kuliah di Universitas Negeri Malang (UM) misalnya, saya mengalami sedikit masalah. Saat mendaftar saya berminat mengambil jurusan sastra Inggris. Pada saat itu—tahun 1997—UM mengadakan saringan sendiri semacam PMDK intern. Apa mau dikata, nilai saya tidak mencukupi kualifikasi untuk masuk ke jurusan yang saya inginkan. UM justru mengarahkan saya ke jurusan Sastra Indonesia yang sama sekali tidak terlintas dalam bayangan saya. Namun ibu saya memberi saran supaya saya masuk ke jurusan tersebut, dan kemudian ikut tes saringan transfer ke jurusan Sastra Inggris. Pada tahun kedua pendidikan saya di UM, saya lolos tes pindah jurusan ke Sastra Inggris.